SANG PENGARUNG SEMESTA: SAWERIGADING

DKI JAKARTA120 Dilihat
banner 468x60

Oleh: M. Sukri.

Jakarta | Expose Online.co.id 

banner 336x280

Di jantung Tanah Luwu, pusat bumi Ware, lahirlah seorang putra fajar yang ditakdirkan menggetarkan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Ia adalah “Sawerigading”, pewaris takhta Kerajaan Luwu yang dadanya menyimpan api keberanian yang tak pernah padam. Jumat (05/06/2026).

Syahdan, setelah melewati prahara batin dan takdir yang rumit di tanah kelahirannya, Sawerigading memutuskan untuk menantang dunia. Ia tidak memilih jalan yang tenang. Ia menebang pohon Welengreng yang keramat, menjadikannya sebuah kapal raksasa yang megah Waka Paccelleng.
Saat kapal itu menyentuh air, guruh bersahutan dan ombak setinggi gunung sujud di bawah lunasnya. Sawerigading berdiri di haluan, matanya menatap cakrawala jauh. Ia bersumpah:

“Tidak akan kusarungkan kerisku, tidak akan kutolehkan wajahku, sebelum kaki ini berpijak di tanah yang belum terjamah, sebelum nama Luwu harum di seberang lautan!”

Menaklukkan Badai dan Kerajaan
Sawerigading adalah simbol semangat pantang menyerah. Ia mengarungi samudra menuju negeri Cina, melewati selat-selat yang dijaga oleh naga dan raksasa laut. Di setiap pelabuhan yang ia singgahi, ia bukan datang sebagai penindas, melainkan sebagai ksatria yang membawa marwah.
Ia bertempur bukan hanya dengan pedang, tapi dengan kecerdasan dan martabat. Dari Ternate hingga tanah Melayu, namanya menjadi kidung yang dinyanyikan para pelaut. Ia membuktikan bahwa orang Luwu tidak dilahirkan untuk diam di rumah, melainkan untuk menjadi nakhoda di tengah badai yang paling liar sekalipun.

Pengembaraannya mencari We Tenri Abeng yang jelita (dalam wujud We Cudai) adalah metafora perjuangan manusia meraih impian tertinggi. Baginya, rintangan sedalam samudra hanyalah genangan air, dan tembok istana setinggi langit hanyalah pagar bambu. Cinta Sawerigading adalah cinta yang revolusioner cinta yang menggerakkan armada, cinta yang membangun peradaban, dan cinta yang menyatukan garis keturunan para raja.

Epos Sawerigading mengajarkan kita tiga hal besar:
1. Resopa Temmanginging Nama Lomo Naletei Pammase: Hanya dengan kerja keras yang tak kenal lelah, rahmat Tuhan akan menyertai. Sawerigading tidak mendapatkan kemasyhuran dengan berpangku tangan di singgasana.
2. Keberanian Menembus Batas: Jangan takut pada “badai” (seperti metafora kita sebelumnya). Bagi Sawerigading, badai adalah kawan yang menguji ketangguhan kemudi kita.
3. Menjaga Marwah: Di mana pun kaki berpijak, harga diri dan asal-usul (Tanah Luwu) harus tetap dijunjung setinggi langit.
Sawerigading adalah pengingat bahwa di dalam darah setiap insan, mengalir arus samudra yang luas. Jika ia bisa menaklukkan dunia dengan kapal kayu dan tekad baja, maka tak ada alasan bagi kita untuk gentar menghadapi tantangan zaman modern ini. Kurru Sumange! (Semoga semangatmu tetap Semangat) ‘Tabe’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *