Siswa SD di Ngada NTT Ditemukan Meninggal Dunia, Tinggalkan Surat Perpisahan Untuk Ibu

Belasungkawa, NTT17 Dilihat
banner 468x60

Ngada NTT | Expose Online.co.id

Peristiwa memilukan terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di kebun milik keluarganya, Kamis (29/1/2026).

banner 336x280

Korban pertama kali ditemukan oleh warga setempat yang sedang berada di kebun. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada aparat desa dan pihak kepolisian. Petugas yang tiba di lokasi langsung melakukan evakuasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban. Surat tersebut menggunakan bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan kekecewaan serta pesan perpisahan kepada ibunya.

Berikut isi surat YBR kepada ibunya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keberadaan surat tersebut.

“Surat itu benar ditemukan di lokasi dan ditulis oleh korban,” ujar Benediktus, Selasa (3/2/2026).

Berdasarkan keterangan pemerintah desa, korban diduga mengalami tekanan emosional setelah permintaannya untuk dibelikan perlengkapan sekolah berupa buku tulis dan pulpen belum dapat dipenuhi oleh sang ibu. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas disebut menjadi penyebab utama permintaan tersebut tidak terpenuhi.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumah ibunya untuk meminta uang membeli perlengkapan sekolah.

“Permintaan itu belum bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi ibunya memang sulit,” ungkap Dion.

Diketahui, ibu korban harus menanggung kebutuhan lima orang anak seorang diri setelah berpisah dengan suaminya sejak beberapa tahun lalu. Sementara itu, korban sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok kebun yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Peristiwa ini mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan duka mendalam dan menyebut kejadian tersebut harus menjadi perhatian bersama. Ia menekankan pentingnya penguatan data keluarga kurang mampu agar bantuan dan pendampingan dapat tepat sasaran.

“Kita perlu memperkuat pendampingan dan data agar keluarga yang membutuhkan perlindungan dan pemberdayaan bisa terjangkau,” ujar Gus Ipul.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak, terutama di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Peran orang tua, lingkungan, serta negara dinilai sangat penting untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa. (Sel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *