Setahun Setelah Presiden Prabowo Resmikan Bank Emas, Industri Emas Melaju Pesat

DKI JAKARTA40 Dilihat
banner 970x250

Jakarta | Expose Online.co.id

Setahun setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan layanan Bullion Bank sebagai tonggak penguatan industri emas nasional, ekosistem bullion Indonesia kembali mencatatkan langkah penting melalui pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Kehadiran IBMA menjadi wadah kolaborasi bagi para pelaku industri untuk membangun pasar bullion yang lebih terintegrasi, transparan, berstandar, dan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

banner 336x280

Peresmian Bullion Bank menjadi titik awal transformasi pengelolaan emas nasional. Dalam kurun waktu satu tahun, layanan bullion menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pegadaian kini mengelola sekitar 153 ton emas, sementara Bank Syariah Indonesia (BSI) mengelola sekitar 24 ton emas. Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan bullion sekaligus menunjukkan besarnya potensi emas nasional sebagai instrumen investasi dan penggerak ekonomi.

Seiring pertumbuhan tersebut, penguatan tata kelola industri menjadi langkah yang semakin penting. Pembentukan IBMA diharapkan mampu menghadirkan standar, memperkuat kolaborasi antarpelaku industri, serta mendorong terciptanya ekosistem bullion yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.

Pada Kamis (16/7), Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menggelar pertemuan bersama jajaran Pegadaian dan BSI untuk membahas perkembangan pembentukan IBMA serta langkah-langkah strategis dalam memperkuat tata kelola, standardisasi, dan sinergi antarpelaku industri emas nasional.

“Kalau ekosistemnya kuat dan semua pelaku bisa jalan bareng, industri emas kita bakal punya nilai tambah yang jauh lebih besar. Ini bukan cuma soal perdagangan emas, tapi juga bagaimana emas bisa jadi penggerak ekonomi nasional,” ujar Dony, mengutip Instagram resmi BP BUMN.

Melalui sinergi BP BUMN, Danantara, Pegadaian, dan BSI, pembentukan IBMA diharapkan dapat mempercepat hilirisasi emas, memperluas pengembangan produk dan layanan berbasis emas, meningkatkan produktivitas aset emas nasional, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pasar bullion di Asia Tenggara. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun industri emas yang semakin modern, inklusif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional. (M. Sukri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *