Oleh : M. Sukri.
Redaksi: Expose Online.co.id
Saudaraku yang dirahmati Allah. Malam ini, izinkan saya tidak banyak bicara, tapi menata hati. Selasa (14/04/2026).
Saudaraku sekalian, pernah tidak kita membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang diam saat dihina? Yang tersenyum tapi hatinya hancur? Dan mungkin kita adalah alasan di balik luka itu
Lebih menyakitkan lagi kita merasa sedang membela kebenaran, padahal yang kita bawa hanyalah amarah bukan kasih sayang.
Kalau Rasulullah SAW ada di hadapan kita hari ini akankah beliau bangga dengan cara kita bersikap? Atau justru kita akan membuat beliau bersedih.
Saudaraku yang dirahmati Allah toleransi itu bukan soal besar atau kecil tapi soal hati yang hidup atau hati yang mati, Hati yang hidup akan gemetar saat menyakiti, Hati yang hidup akan memilih diam daripada melukai, Hati yang hidup akan lebih takut menyakiti manusia daripada sekadar terlihat kalah dalam perdebatan.
Tapi hari ini kita terlalu sibuk ingin terlihat benar, sampai lupa bagaimana caranya menjadi baik. Kita terlalu keras di luar tapi kosong di dalam dan yang paling menakutkan kita tidak sadar bahwa hati kita mulai mati pelan-pelan.
Saudaraku sekalian kalau malam ini kita masih bisa merasa sesak, masih bisa merasa bersalah, masih ada keinginan untuk berubah maka itu tanda bahwa hati kita belum benar-benar mati.
Mari kita kembali bukan hanya kepada ibadah semata, tapi juga kepada rasa kemanusiaan yang diajarkan agama
Karena di akhir nanti bukan hanya perbuatan baik kita yang akan ditanya tapi juga hati siapa yang pernah kita sakiti.
Saat itu, tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi pembelaan yang ada hanya penyesalan belajar dari setiap peristiwa, setiap peristiwa dalam perjalanan Rasulullah ﷺ mengandung pelajaran baik kemenangan maupun kesulitan, semuanya menjadi pembelajaran.
Orang yang bijak adalah orang yang mau belajar dari setiap pengalaman
Jangan hanya merasakan, tetapi juga mengambil hikmah kesalahan bukan untuk disesali terus-menerus, tetapi untuk diperbaiki.
Jika Anda terus belajar, Anda akan terus berkembang hidup akan menjadi lebih bermakna. Perbanyak dzikir, istighfar, dan sholawat agar hidup penuh hikmah dan mendapat ridho Allah.














