Bukan Dapilnya, Binton Jhonson Nadapdap Tetap Turun: Dobrak Borok TPS Sadewa yang Bikin Romo Mual

Bogor, Pemerintah18 Dilihat
banner 970x250

Depok | Expose Online.co.id

Bau busuk menyengat, belatung berserakan, dan lalat hijau beterbangan di dalam gereja. Itulah pemandangan miris di Tempat Penampungan Sampah (TPS) Jalan Sadewa Raya, Sukmajaya, Kota Depok.

banner 336x280

Kondisi jorok ini akhirnya disemprot keras oleh Anggota DPRD Kota Depok, Binton Jhonson Nadapdap, S.H., M.M. Bukan di media sosial, tetapi langsung di hadapan Wali Kota Depok dalam Rapat Paripurna DPRD tentang Raperda Perubahan APBD 2026, Kamis (17/9/2026).

TPS seluas 200–300 meter itu posisinya tak wajar. Menempel persis di tembok Gereja Methodist Indonesia. Di kanan-kirinya terdapat Gereja Kristen Jawa (GKJ) dan Gereja Katolik Santo Matius Depok II Tengah.

Bayangkan, di tengah permukiman padat, jemaat harus beribadah sambil menahan napas.

“Saya ketemu Romo dari Gereja Katolik. Dia bilang perutnya sudah mual karena bau yang sangat menyengat. Jemaat kalau kebaktian hari Minggu harus pakai masker,” ungkap Binton, Ketua DPD PSI Kota Depok yang juga Penasehat Forum Komunikasi Umat Kristiani Depok.

Ini bukan soal bau. Ini soal paru-paru anak-anak 5–10 tahun ke depan. Air tanah pasti tercemar.

Saat sidak, Binton, yang notabene bukan dari Dapil Sukmajaya (dapilnya Beji-Cinere-Limo), menemukan fakta yang lebih parah.

Truk sampah parkir memakan separuh jalan. Saat mengangkut sampah, truk harus mundur masuk ke halaman gereja. Ratusan gerobak sampah antre mendorong. Warga pun tak bisa lewat.

Lebih mengkhawatirkan lagi, TPS berada di bibir jembatan kali. Sampah tercecer dan jatuh ke kali. Saat hujan, air lindi hitam dan lendir busuk meluber ke mana-mana.

Kapasitas TPS tak sebanding dengan ledakan penduduk Sukmajaya. Hanya dua truk yang beroperasi sehari. Akibatnya, sampah selalu bersisa, membusuk, dan menjadi sarang belatung yang berserakan sampai ke teras gereja.

Padahal, masalah ini bukan baru. Sejak 2022, warga sudah berteriak meminta TPS Sadewa dipindahkan.

Binton tak mau hanya mengeluh. Ia menyodorkan dua solusi konkret dan menagih janji Wali Kota saat kampanye dulu yang berjanji akan memindahkan TPS tersebut.

Binton berharap ada solusi cepat.

Pertama, tambah armada dari dua menjadi empat truk per hari. TPS harus benar-benar bersih tanpa sisa, lalu langsung disiram dan disemprot disinfektan setiap hari.

Kedua, relokasi sekarang juga. Cari lahan baru seluas 200–300 meter di pinggiran Sukmajaya yang jauh dari permukiman dan rumah ibadah. Lahan lama dikembalikan menjadi taman dan fasos-fasum.

“Kecamatan Sukmajaya itu luas. Masa tidak ada lahan 200 meter untuk TPS yang layak? Di APBD Perubahan 2026 anggarannya sangat signifikan besar. Berapa sih harga lahan 300 meter? Tidak mahal untuk kesehatan warga,” tegasnya.

Binton menegaskan, ini bukan isu agama. Mayoritas warga Muslim di sekitar TPS juga terdampak bau dan penyakit.

“Sebagai Kota Depok yang majemuk, jangan sampai orang berpikir kalau gereja tidak dapat perhatian. Sampah adalah persoalan paling pelik di Depok dan ini harus jadi prioritas,” pungkasnya. (Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *